Update Terbaru Penyebaran Coronavirus COVID-19

Para Ilmuwan khawatir tentang virus baru yang saat ini telah menginfeksi puluhan ribu dan membunuh ribuan orang di seluruh dunia saat ini. Virus yang muncul di kota Wuhan di Cina pada Desember 2019, adalah virus Corona dan memiliki keluarga yang sama dengan patogen yang menyebabkan sindrom pernafasan akut atau SARS yang pertama kali muncul pada November 2002. Virus inilah yang saat ini menyebabkan penyakit pernapasan yang dapat menyebar dari orang ke orang yang kemudian disebut COVID-19.

Berdasarkan informasi yang dirangkum dari berbagai sumber, inilah berita terbaru tentang wabah tersebut.

2 Maret 2020 21:00 GMT - Sudah menginfeksi hampir 90.000 orang di seluruh dunia
Di seluruh dunia Jumlah yang telah terinfeksi coronavirus telah melampaui 90.000 orang. Lebih dari 3.000 orang telah meninggal sejak wabah dimulai pada bulan Desember 2019 ini. Sebagian besar kasus lebih dari 80.000 terjadi di Cina, namun sekarang sekitar 60 negara lain sekarang juga berurusan dengan wabah ini. Banyak negara sedang bersiap-siap untuk pandemi global, karena laporan kasus yang disebabkan oleh penyebaran masyarakat (bukannya impor dari Cina) meningkat.
Korea Selatan, Italia, dan Iran berjuang melawan wabah ini.

2 Maret 2020 20:45 GMT - WHO meningkatkan peringatan ke 'sangat tinggi'
Pada jumpa pers pada 29 Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa mereka telah meningkatkan kewaspadaan global untuk wabah COVID-19 ke tingkat setinggi mungkin, singkatnya disebut pandemi. Virus ini sekarang telah menyebar ke sekitar 60 lokasi di luar China, dengan kasus-kasus baru terdeteksi di Irlandia, Monako, Azerbaijan, Qatar dan Ekuador.
Epidemiolog di WHO telah meningkatkan risiko global penyebaran dan dampak wabah koronavirus dari 'tinggi' menjadi 'sangat tinggi', namun risiko 'sangat tinggi' tetap di Cina.
Penilaian global para ahli epidemiologi didasarkan pada peningkatan yang terus-menerus dalam kasus-kasus dan lokasi-lokasi yang terkena dampak, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi beberapa daerah seperti Iran dan Italia dalam menahan penyebaran virus corona.
Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal WHO, mengatakan pada pertemuan itu bahwa sebagian besar kasus terkait dan masih dapat ditelusuri ke kontak atau kelompok yang diketahui, tanpa ada bukti virus menyebar secara bebas di masyarakat. "Masalahnya selama ini, kita masih memiliki peluang untuk membendung virus ini, jika tindakan yang kuat diambil untuk mendeteksi kasus lebih awal, mengisolasi dan merawat pasien dan melacak riwayat kontaknya" kata Tedros.
Karena itu WHO menolak sekali lagi, menyatakan wabah ini sebagai pandemi. 
Mike Ryan, Direktur program kedaruratan WHO, mengatakan bahwa keputusan seperti itu berarti bahwa upaya untuk menahan dan memperlambat penyebaran virus telah gagal, yang justru sebaliknya telah dibuktikan oleh Cina, Singapura, dan wilayah lain. 
Beberapa negara sudah mulai menyiapkan rencana pandemi mereka, yang merupakan tindakan pencegahan penting, Nigel McMillan, seorang peneliti penyakit menular di Griffith University di Brisbane. Australia, misalnya, memulai tanggap darurat koronavirus pada 27 Februari. WHO terlalu berhati-hati untuk tidak menyatakan pandemi, kata McMillan.

2 Maret 2020 20:30 GMT - Rincian penyebaran muncul dari analisis WHO China
China telah meningkatkan "upaya mencegah penyakit yang mungkin paling ambisius, dan agresif dalam sejarah" sebagai penyakit menular baru, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan dalam sebuah laporan yang dirilis pada 28 Februari, setelah pertemuan 9 hari di China, 16 –24 Februari. Laporan ini menganalisis data dari wabah di Cina, dan merekomendasikan langkah-langkah yang harus diambil Cina dan negara lain untuk mencegah penyebarab COVID-19.
WHO mengonfirmasi bahwa kasus harian baru menurun di negara itu, sedemikian rupa sehingga sekarang pihak berwenang disana mengalami masalah dalam merekrut pasien untuk melakukan lebih dari 80 uji klinis yang dijalankan untuk menguji perawatan potensial terhadap virus corona. 
Berdasarkan analisis data laporan dari China ditemukan, bahwa 104 jenis virus corona, bernama SARS-CoV-2, yang dikumpulkan dari orang-orang yang terinfeksi rentang waktu antara Desember 2019 hingga pertengahan Februari 2020 adalah 99,9% serupa, ini berarti bahwa virus COVID-19 tidak bermutasi secara signifikan. Usia rata-rata orang yang terinfeksi adalah 51 tahun dan kebanyakan kasus yang telah menyebar dari orang ke orang justru terjadi di dalam rumah sakit, penjara atau rumah tangga, yang mengisyaratkan bahwa virus menyebar dari orang yang terinfeksi ke orang-orang disekitarnya karena terlalu seringnya kontak secara dekat. Akan tetapi hingga saat ini penyebaran melalui udara belum diyakini sebagai penyebab utama penyebaran, kata laporan itu.
Dalam satu studi pendahuluan dari provinsi Guangdong, orang-orang dalam rumah tangga yang sama dengan seseorang terinfeksi COVID-19 memiliki peluang 3 hingga 10% untuk terinfeksi.
WHO memuji kemampuan China dalam mengatasi epidemi dengan berbagai langkah. Salah satunya adalah dikerahkannya 1.800 tim ahli epidemiologi untuk melacak dengan cepat puluhan ribu kontak orang yang terinfeksi virus di provinsi Hubei, tempat wabah itu muncul. Hingga 5% dari kontak ini berakhir dengan penyakit dan dapat didiagnosis dengan cepat. Dan laporan itu mengatakan, dengan mencegah perjalanan keluar dari Hubei (tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya di provinsi sebesar ini) adalah mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas ke 1,4 miliar warga China.

28 Februari 12:45 GMT - Coronavirus menyebar ke sub-Sahara Afrika 
Wabah coronavirus telah menyebar ke 46 negara selain Cina  dan sekarang tampaknya menyebar lebih cepat di luar Cina daripada di dalam Cina sendiri.  Beberapa negara melaporkan infeksi pertama mereka minggu ini; kasus termasuk yang pertama dikonfirmasi di Afrika sub-Sahara yaitu di Nigeria. Pusat Pengendalian Penyakit Nigeria melaporkan kasus ini pada tanggal 27 Februari 2020 dan mengatakan sedang berupaya melacak kontak orang yang terinfeksi. 
Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa lebih dari 82.000 orang di seluruh dunia sekarang telah terinfeksi - lebih dari 3.600 orang di luar China. Di Korea Selatan, kasus wabah terbesar kedua di dunia ini bahkan telah mencapai hingga lebih dari 2.300 orang.
Sedangkan di di Cina sendiri, wabah ini tampaknya melambat, dengan jumlah harian kasus baru menurun. Pihak berwenang melaporkan 327 infeksi baru secara nasional pada 27 Februari 2020. Seminggu sebelumnya, pada 20 Februari 2020, angka itu sekitar 900. Sedangkandi luar Cina, sekitar 750 kasus baru dilaporkan pada 27 Februari 2020.

Post a Comment

0 Comments